spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dosen UINSI Ajak Masyarakat Cerdas Bermedia Sosial

SAMARINDA – Hadir sebagai narasumber, dua dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, masing-masing Sitti Syahar Inayah dan Herman A Hassan, berbicara di depan peserta Talkshow Literasi Media Sosial Berbasis Islam Wasathiyah Cerdas dalam Bermedia Sosial.

Kegiatan bertema Jaga Dunia Maya, Jaga Akhlak Bangsa ini digelar Komisi Informatika dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia wilayah Kalimantan Timur dihadiri peserta dari berbagai organisasi keagamaan, di Hotel Senyiur, Samarinda, Rabu, (23/11/2022).

Sitti Syahar Inayah, dosen Pascasarjana Komunikasi Penyiaran Islam UINSI Samarinda menyampaikan, materi Cerdas Bermedia Dengan Cara Menjadi Awam. Inayah menyampaikan, menurut Syekh Imam Al-Gazali, belajar harus memiliki imsak alias menahan diri.

“Berbicara tentang cerdas bermedia, saya mencoba menawarkan pandangan Syekh Imam Al-Gazali. Untuk menjadi cerdas, kita harus menjadi awam,” ucapnya.

Inayah menyampaikan, kalimat kontradiktif ini memunculkan pertanyaan bagaimana mungkin seseorang dapat menjadi cerdas dengan tetap dalam keadaan awam. Menurutnya, makna kecerdasan didapatkan melalui proses menahan diri untuk tidak membahas konteks yang tidak dipahami.

“Konteks aktualisasinya saat ini adalah, kapasitas penyampaian yang harus dikontrol dalam bidang yang tidak dipahami,” tambahnya.

Inayah menggambarkan, seorang ahli tafsir yang membahas tentang komunikasi akan memberikan kesan kurang tepat. Artinya, seseorang akan lebih tepat berbicara sesuai kompetensi bidangnya. Sehingga makna awam yang dimaksud, terkait konteks di luar bidang yang dikuasai.

Dikatakan, sifat wasathiyah tidak hanya menawarkan pemahaman keadilan, namun juga menghargai sesama untuk tidak masuk pada ranah keilmuan lain. Menahan diri menjadi sangat penting di era digital. Inayah kemudian mengutip pendapat Tom Nichols melalui buku The Death of Expertise, bahwa era digital saat ini telah melahirkan fenomena matinya kepakaran.

“Semua berlomba-lomba menjadi pakar di era digital, hanya dengan membaca,” tambahnya.

Inayah mengatakan, 90 persen sajian media sosial memberikan informasi tidak sesuai kebutuhan. Namun banyak dikonsumsi banyak orang, sehingga bijak bermedia sosial dapat menjadi kontrol diri.

Dalam kesempatan yang sama, Herman A Hasan mengatakan pentingnya pemahaman dan membedakan informasi hoaks sebagai keamanan digital. Dia mengatakan, saat ini bentuk hoaks yang paling mudah diterima terkait tulisan 62,10 persen, gambar 37,50 persen, dan video 0,40 persen.

“Saat ini banyak orang enggan melakukan cek terkait kebenaran berita. Hal ini bisa disebabkan berita yang didapat disebarkan orang terpercaya,” ucapnya.

Herman menjelaskan, penyebaran informasi dilakukan orang yang dianggap berkompeten akan mudah dipercaya. Sementara pada era digital, data informasi sangat mudah dipalsukan. Dia mengimbau peserta, melakukan saring informasi sebelum sharing, mengajak masyarakat menjadi mujahid melawan berita hoaks

“Contohnya, saat ini banyak pengguna whatshap melakukan share informasi menggunakan foto orang lain. Sehingga ketika melihat foto yang dikenal sebagai orang memiliki kompeten, kita akan lebih mudah percaya. Padahal data tersebut palsu,” tutupnya.

Sementara itu, sebelumnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim K.H. Muhammad Rasyid menyampaikan, sikap wasathiyah merupakan ciri karakter umat Islam. “Kelompok Wasathiyah adalah As Sawaadul A’dham, atau mayoritas umat,” ucapnya.

Rasyid mengatakan, karakter tersebut merupakan gabungan dari pengetahuan, sikap, motivasi, perilaku dan keterampilan. Sikap wasathiyah memungkinkan terbentuk jika seseorang memiliki wawasan beragama yang luas, serta pemahaman bersumber dari ajaran agama yang baik.

“Kita harus dapat memosisikan diri, antara sikap radikal dan sikap liberal,” tambahnya.

Di era globalisasi, wasathiyah beragama dapat dilakukan melalui penggunaan proporsional antara nas agama dan konteks kekinian. Bersikap moderat dalam kerangka berpikir, bersyariah, beraqidah dan berakhlak. Selain itu, memosisikan diri sebagai rujukan umat serta peran sebagai pemersatu bangsa.

“Dengan mengekspos ajaran agama bersifat moderat, masyarakat hendaknya dapat memfilter keagamaan transnasional yang masuk ke Indonesia. Mari tanamkan budaya klarifikasi untuk dapat menghindari hoaks serta memanfaatkan teknologi informatika,” pungkasnya. (ria/eff)

BACA JUGA

15.9k Pengikut
Mengikuti