spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Desa Sebelimbingan Berharap Listrik

KOTA BANGUN – Sudah 77 tahun Indonesia merdeka, namun hingga saat ini belum bisa menikmati aliran setrum dari perusahaan listrik negara (PLN). Itulah Desa Sebelimbingan, salah satu desa di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Di desa ini, listrik hanya menyala 6  jam. Itu pun dari genset pinjaman Kecamatan Kota Bangun,” sebut Sauqani, kepala Desa Sebelimbingan kepada media ini.

Awalnya, desa ini merupakan bagian dari Desa Muhuran. Namun sejak 2005, desa ini kemudian dimekarkan dan menjadi desa mandiri yakni Desa Sebelimbingan. Desa ini terbagi dalam 5 rukun tetangga (RT) dengan jumlah penduduk 592 jiwa atau 193 kepala keluarga (KK).

Di desa ini, listrik genset yang dikelola desa, baru akan menyala pada pukul 17.30 Wita sore. Kemudian, akan dimakamkan pada pukul 24.00 Wita. Untuk menyalakan mesin genset tersebut, setiap hari harus membakar sedikitnya 85 liter solar.

Sauqani menyebutkan, setidaknya Rp 204 juta per tahun dana desa yang dihabiskan hanya untuk kebutuhan bahan bakar genset yakni solar. “Warga tetap diminta iuran. Tapi tidak seberapa, hanya Rp 100 ribu per bulan untuk setiap rumah,” sambungnya.

Karena itu, tak berlebihan jika menurut Sauqani, warga di desa ini sangat berharap agar listrik bisa segera masuk ke desa ini. “Apalagi katanya daya listrik sudah surplus. Sudah waktunya dialirkan juga ke desa seperti kami ini,” sambungnya.

Sejatinya, tidak hanya Desa Sebelimbingan yang krisis listrik. Hampir semua desa di kawasan pedalaman Kutai Kartanegara ini belum dialiri setrum dari PLN. Meski sudah ada tiang listrik yang disebar di kawasan ini, namun belum diketahui bagaimana kelanjutan rencana distribusi listrik di kawasan ini. (*)

BACA JUGA

15.9k Pengikut
Mengikuti